Kembali ke Insights
Leadership Communication

Kenapa Lead Engineering Makin Sering "Ketinggalan Info"? Bukan Soal Generasi, Tapi Soal Tools

DS
Dimas Sanjaya
8 min read

Beberapa minggu lalu, saya ngalamin hal yang mungkin familiar buat banyak engineering lead di luar sana.

Saya bilang ke tim support: "IP public ini kita buka supaya development lebih lancar."

Tim support jawab: "Tapi kata tim Bapak, mereka juga setuju IP-nya ditutup."

Tunggu — kapan tim saya bilang itu? Ke siapa? Lewat mana?

Ternyata lewat DM pribadi. Tanpa context. Tanpa loop saya sebagai lead.


Ini Bukan Masalah Baru, Tapi Makin Parah

Kalau Anda lead atau manager yang mulai kerja sebelum 2015, coba ingat: dulu kalau mau komunikasi lintas tim, opsinya apa?

Email (otomatis CC atasan), telepon kantor (kedengaran semua orang), atau jalan ke meja orangnya (keliatan). Semua channel komunikasi by default transparan. Atasan tau bukan karena anak buah lebih nurut — tapi karena infrastrukturnya memaksa transparansi.

Sekarang? Seseorang bisa DM dari HP pribadi, di platform yang bukan official, jam 11 malam. Dan Anda sebagai lead tidak akan pernah tau.

Turning Point-nya Kapan?

Kalau saya tarik timeline:

2010–2015

WhatsApp dan BBM masuk ke workplace. Batas chat personal dan profesional mulai kabur.

2015–2018

Startup culture yang "flat organization" bikin ekspektasi: ngapain lewat lead, langsung aja ke orangnya.

2020

Pandemi. Ini game changer. Semua remote, semua lewat chat. Orang yang pertama kali kerja di era ini tidak pernah kenal komunikasi kerja yang structured. DM langsung itu satu-satunya cara yang mereka tau.

2022–now

Multi-platform chaos. WhatsApp, Telegram, Slack, Discord, bahkan DM Instagram. Informasi terfragmentasi di mana-mana.

Bukan Generasinya yang Salah

Saya sempat berpikir ini masalah generasi. Tapi setelah dianalisa, akar masalahnya bukan di orangnya — tapi di kenyataan bahwa tools komunikasi berkembang jauh lebih cepat dari budaya kerja yang mengaturnya.

Generasi yang lebih muda kebetulan yang paling native di environment ini. Mereka DM langsung bukan karena niat bypass atasan, tapi karena:

Generasi sebelumnya juga akan sama kalau pertama kali kerja di kondisi yang sama. Bedanya, mereka sempat kenal era structured dulu — jadi masih ada "rem"-nya.

Dampaknya ke Lead?

Ini yang jarang dibicarakan:

1. Kehilangan visibility

Tiba-tiba ada keputusan yang Anda tidak tau asal-usulnya.

2. Jadi reaktif

Tau masalah setelah sudah jadi, bukan dari awal.

3. Accountability gap

Kalau ada yang salah, yang ditanya Anda. Tapi informasinya tidak pernah sampai ke Anda.

Dan ini bukan soal ego. Ini soal tanggung jawab.

Lalu Bagaimana?

Beberapa hal yang saya coba terapkan:

1. Reframing peran lead

Saya bilang ke tim: "Saya perlu tau bukan karena perlu approve, tapi karena perlu context supaya bisa bantu kalian kalau ada masalah nanti." Framing ini lebih diterima daripada "harus izin saya dulu."

2. Sediakan channel yang low-barrier

Kalau channel resmi terasa berat, bikin yang ringan. Dedicated group untuk quick questions, supaya mereka tidak perlu DM random orang. Kalau accessible dan fast, mereka akan pakai.

3. Educate, jangan marah

Kalau ketauan DM langsung tanpa loop Anda, jangan langsung tegur keras. Cukup: "Gapapa tanya langsung, tapi next time loop saya ya biar saya tau context-nya."

4. Document keputusan

Keputusan teknis yang punya justifikasi — tulis. Di Slack, di Notion, di mana saja yang bisa di-refer ulang. Supaya tidak jadi "kata dia, kata dia."


Penutup

Masalah ini bukan soal Gen Z yang tidak menghormati atasan. Ini soal ekosistem komunikasi yang berubah drastis dalam 10 tahun terakhir, sementara budaya dan proses kerja belum menyesuaikan.

Sebagai lead, kita tidak bisa mengontrol tools apa yang dipakai orang. Tapi kita bisa membangun culture di mana transparansi jadi kebiasaan, bukan kewajiban.

Dan itu dimulai dari kita sendiri — communicate openly, set expectations clearly, dan lead by example.


Apakah Anda juga mengalami hal serupa? Saya penasaran bagaimana lead dan manager lain mengatasi tantangan ini.